Articles

Articles (25)

Masih banyak bentang alam yang unik dan belum banyak diketahui orang di sekitar Puncak Carstensz, Papua. Salah satunya, yakni Pintu Angin yang bisa bikin pusing para pendaki. Dua jam berjalan kaki dari Basecamp Danau-danau ke arah Zebra Wall yang dekat dengan pertambangan Freeport, terdapatlah Pintu Angin. Sebenarnya, itu merupakan suatu julukan dari trek pendakian. Jalanannya menanjak terus seperti membelah batu besar. Kalau sebelumnya jalanannya lempeng, ini menanjak terus melewati dua tebing besar di kiri dan kanan. Ketika melewati Pintu Angin, para pendaki akan merasakan hembusan angin yang sangat kuat. Bahkan, bisa-bisa membuat pusing hingga paling bahaya tubuh langsung drop dan dapat pingsan!

Asal tahu saja, para pendaki yang menuju ke Puncak Carstensz dari jalur Sugapa-Ugimba, Soangama atau Ilaga yang merupakan jalan kampung tidak akan melewati Pintu Angin. Pintu Angin hanya bisa dilewati lewat jalur Freeport yang mana harus memiliki izin khusus karena sebenarnya bukan untuk jalur pendakian. Tapi tak masalah, sebab pendaki bisa main-main ke sana saat sedang kemping di Basecamp Danau-danau. Di dekat Pintu Angin, akan terlihat tiga danau yang cantik dengan permukaan airnya yang berwarna hijau.

Butuh persiapan yang tidak main-main untuk mendaki gunung. Peralatan harus lengkap, pengetahuan harus oke, fisik harus siap. Tapi begitu kaki melangkah, nomor satunya adalah mental. Itulah yang disampaikan Ardeshir Yaftebbi, salah satu pemandu tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015. Ardeshir bukan pendaki sembarangan, dialah ketua tim Indonesia Seven Summits Expedition beberapa tahun lalu. Dirinya pun sudah mendaki 5 dari 7 puncak gunung tertinggi di 7 benua.

Sugapa yang masuk dalam wilayah Kabupaten Intan Jaya, adalah desa yang indah dikelilingi gunung. Hawanya segar dan berada di hutan belantara tropis pedalaman papua. Kabupaten Intan Jaya memiliki 2 lembah yaitu Lembah Kemadoga dan Lembah Dugindoga yang subur dan ditanami sayur mayur, kopi dan buah merah. Sugapa dihuni 96 ribu penduduk yang tersebar di delapan distrik dan 78 kampung. Sugapa adalah destinasi desa sekaligus petualangan, khususnya bagi mereka yang ingin mendaki Puncak Carstensz.

Kunjungilah sebelum saljunya hanya menjadi sejarah Indonesia. Tak heran jika Puncak Carstensz Pyramid yang berada di ketinggian 4.884 mdpl sudah tidak lagi berselimutkan es. Gunung Carstensz pada tahun 1986, tampak es masih menutupi tebing di sekitar puncak Carstensz hingga ketinggian sekitar 4.750 mdpl. Namun menurut beberapa pendaki pada tahun 1991, hamparan gletser telah meleleh.

Sayang jika anda orang Indonesia belum sempat kesana menyentuh salju di negeri anda sendiri dan salju ini sudah hanya tinggal sejarah. Indonesia merupakan negara tropis sangat aneh jika bias ada salju namun keajaiban ini benar-benar ada di Puncak Carstensz di Papua,dan karena perubahan iklim terjadi banyak perubahan pada salju-salju disana.Kita yang memiliki tempat ini pun menjadi pemilik tanggung jawab terbesar untuk menjaga alam kita supaya anugrah ini tidak menjadi sejarah saja. Mari jaga alam kita supaya anak cucu kita bisa terus menyaksikan keindahan yang Tuhan sudah berikan untuk kita di negeri ini.

Sugapa sungguh merupakan desa yang menarik dan memiliki banyak cerita unik, Salah satunya dengan kisah kepala Suku Moni yang punya 22 istri. Sugapa yang masuk dalam Kabupaten Intan Jaya, merupakan awal pendakian menuju Puncak Carstensz. Pesawat carteran pendaki akan melintasi Pegunungan Jayawijaya. Dari Timika, Desa Sugapa berada di belakang Pegunungan Jayawijaya. Rumah-rumah di Sugapa pun kebanyakan sudah memakai tembok dan seng sebagai atap. Rumah-rumah honai, alias rumah adat yang bentuknya seperti jamur, sudah jarang ditemukan di sana.

Sekitar 20 menit berjalan kaki dari pusat Sugapa, anda akan bertemu dengan kepala Suku Moni, Oktovianus Sondegau yang tinggal di dekat Sungai Wabu dan rumahnya masih berupa honai. Rumah-rumah adat ala suku-suku yang mendiami kawasan pegunungan di Papua. Umurnya sudah 75 tahun dan dia punya 22 istri. Perawakannya sederhana. Giginya sudah ompong dan tubuhnya bungkuk. Sayangnya, Oktovianus tidak bisa berbahasa Indonesia.

Dia mulai menikah sekitar umur 15 tahun. Anaknya, kini sudah seratus lebih tapi dia masih hafal semuanya. Yang namanya kepala suku, sudah pasti Oktovianus ini tajir. Hartanya melimpah, berupa perkebunan luas dan babi yang jumlahnya mencapai ratusan ekor. Itulah, alasan mengapa dia digilai banyak wanita dan punya banyak istri. Sehari-hari kerjaannya berburu dan mengurus ladang. Walau sudah punya 22 istri, mereka semua hidup sejahtera. Menariknya lagi, anak-anak dari kepala Suku Moni ini banyak yang sekolah mencapai perguruan tinggi dan melalang buana ke luar Papua. Namun untuk dirinya sendiri, dia masih betah tinggal di Sugapa. Ngomong-ngomong, masih mau tambah istri Pak?

"Mau...," katanya yang sembari tertawa. Sikapnya ramah dan terbuka kepada turis.

“Biarlah segala sesuatu tentang pariwisata Carstensz kami warga Papua sendiri yang mengatur,jangan seperti raja ampat yang diatur oleh orang luar kami warga Papua hanya membantu saja” ujar Maximus Tipagau salah satu pemuda asal Papua yang sekarang menjalankan Adventure Carstensz tour travel yang bisa langsung mengantarkan anda ke puncak gunung tertinggi di Indonesia ini. Puncak Carstensz adalah bukti kekayaan tanah Papua. Inilah puncak setinggi 4.884 mdpl yang masuk dalam 7 puncak tertinggi di 7 benua. Para pendaki rela mengeluarkan ratusan juta rupiah, agar bisa berdiri di sana. "Operator pendakian luar negeri, jual paket ke Carstensz itu lebih dari USD 10.000 (setara Rp 150 juta-red). Satu orang saja sudah berapa uang yang masuk," ujar Maximus Tipagau, penanggung jawab Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015.

Maximus memberikan contoh, Adventure Consultant, operator pendakian terkenal dari Selandia Baru saja menjual paket pendakian ke Puncak Carstensz seharga USD 27.000 atau sekitar Rp 383 juta. Tak ayal, Puncak Carstensz pun disebut-sebut sebagai salah satu pendakian paling mahal di dunia. Uang sebegitu banyak, digunakan untuk membayar porter sampai logistik. Lalu pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Papua sendiri sudah menikmati kucuran dana yang dikeluarkan oleh para pendaki?

Oleh sebab itu Maximus pun meminta bantuan pemerintah untuk turut serta membantu masyarakat Papua mengelola Puncak Carstensz. Selain memberikan pelatihan pemahaman pariwisata, pemerintah dimintanya untuk membangun infrastruktur di sana khususnya terkait pariwisata mengenai jalur pendakian ke Puncak Carstensz. Sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Kemenpar duduk bareng bersama masyarakat papua membahas soal pengelolaan Puncak Carstensz. Orang-orang papua harus bisa menjaga dan melestarikan keindahan alam di sana demi pariwisata. Karena dengan pariwisata jugalah, mereka bisa hidup sejahtera.

Menurut Maximus, suku-suku Papua yang tinggal di sekitar Puncak Carstensz jangan hanya menjadi penonton saja. Mereka harus turun langsung untuk mengelola destinasi-destinasi di sana.

Page 3 of 5
JAKARTA:
Rukan Inkopal Blok G No. 58
Jl. Raya Boulevard Barat, 
Kelapa Gading, Jakarta Utara
CP: +62-821-2121-0021

PAPUA:
Jalan Enggang No. 4
Kuala Kencana - Timika  -  Mimika   
CP: +62-812-4061-6288 (Jenny)

EUROPE:
Schoenbrunner Schloss Strasse
11220, Vienna, Austria   
CP: +43-680-2323-597 (Reza)

English French German Italian Portuguese Russian Spanish