Articles

Articles (25)

Ugimba - Bentang alam Papua bagikan misteri yang selalu bikin penasaran. Ada saja tempat-tempat menarik, yang penuh sejarah sekaligus indah dipandang. Salah satunya yang belum diketahui orang adalah gunung bernama Tangga Surga! Ini adalah pengalaman pada Sabtu, 15 Agustus 2015 lalu, ketika tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz memulai perjalanan dari Bandara Mozes Kilangin di Timika menuju ke Sugapa. Selain melihat Puncak Jaya dan Sumantri dari kejuahan yang berwarna putih karena punya salju abadi, ternyata ada satu lagi pemandangan yang tak kalah menakjubkan.

Ada banyak keunikan di sekitar Puncak Carstensz yang memang tidak diketahui banyak orang. Dan contohnya adalah sungai terbalik Nabe, yang mana bermuara bukan ke laut tapi  ke puncak Carstensz.  Sungai ini berada di ketinggian 3000 mdpl dan aliran sungainya terbalik,dari bawah ke atas. Sungai ini merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi di alam Papua dan sampai sekarang belum pernah diteliti lebih lanjut. Hal ini menjadi ilusi visual bahwa puncak carstensz sendiri bisa dibilang fenomena gunung magnet. Aneh dan ajaib bukan?

 

Sugapa-Ugimba, Soangama, atau Ilaga kampung-kampung yang bisa anda lewati sebelum sampai pada puncak Carstensz 4884mdpl puncak impian para pendaki. Cara untuk menuju ke Puncak Carstensz adalah dari Jakarta Anda bisa naik pesawat menuju Timika atau Nabire. Lalu, dilanjutkan naik pesawat perintis yang hanya berkapasitas 12 kursi menuju Sugapa di Intan Jaya. Dari sana, perjalanan dilanjutkan 8 jam ke Desa Ugimba dan perjalanan menuju Puncak Carstensz bisa sampai 4 hari paling cepat.

Sejarah Puncak carstensz atau yang dikenal sebagai Nemangkawi di Amungkal. Puncak Jaya sebelumnya bernama Piramida Carstensz setelah penjelajah Belanda Jan Carstenszoon menamainya ketika pertama kali melihat gletser di puncak gunung pada hari yang cerah pada tahun 1623. Padang salju (gletser) Puncak Jaya berhasil didaki pada awal tahun 1909 oleh seorang penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz dengan enam orang suku Kenyah yang direkrut dari Apau Kayan di Kalimantan Utara. Taman Nasional Lorentz yang juga meliputi Piramida Carstensz, didirikan pada tahun 1919 menyusul laporan ekspedisi ini.

Rasanya tak habis membicarakan fenomena alam di Puncak Carstensz, Papua. Salah satunya yang bikin geleng-geleng kepala, adalah terjadinya dua cuaca yang berbeda di satu tempat. Inilah yang dirasakan tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 saat melakukan pendakian ke Puncak Carstensz, 29 Agustus kemarin. Tim jurnalis yang terdiri dua orang, berangkat dari Basecamp Danau-danau pada pukul 04.00 WIT bersama dua pemandu, Hendricus Mutter dan Ardeshir Yaftebbi.

Cuaca yang cerah menemani perjalanan tim jurnalis, dari Lembah Kuning, Teras Besar, Summit Ridge hingga di Puncak Carstensz. Meski, saat tiba di puncaknya yang setinggi 4.884 mdpl kabut yang tebal sempat menutupi pandangan. Tim jurnalis pun merasakan hujan salju saat perjalanan turun, meski hanya dua atau tiga menit saja. Setelah itu, cuaca kembali cerah. Ketika sampai kembali di basecamp, Arga Nugraha yang merupakan salah satu pendaki perwakilan dari Yayasan Somatua langsung bertanya kepada kami, tim jurnalis. Apakah di pagi hari merasakan hujan salju? "Di basecamp hujan salju di pagi hari. Putih-putih begitu, dingin. Kalian kena hujan salju juga?" tanyanya.

Puncak Carstensz di Papua yang punya salju abadi merupakan bukti kekayaan dan keunikan alam Indonesia. Untuk itu, polisi pariwisata bakal disiapkan di sekitar puncak tersebut untuk memudahkan pendakian wisatawan. Mantan Kapolda Papua, Irjen Pol Tito Karnavian membeberkan soal perencanaan pengadaan polisi pariwisata di sekitar kawasan Puncak Carstensz. Tujuannya jelas, memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan dalam dan luar negeri untuk mendaki puncak bersalju tersebut.

"Polisi-polisi pariwisata sedang disiapkan oleh Pemda Kabupaten Intan Jaya dan pemerintah daerah lainnya di kawasan di sekitar Puncak Carstensz. Mereka akan menjaga keamanan, memberikan informasi kepada turis dan membantu turis mendaki”. Lanjut Tito, polisi-polisi pariwisata tersebut sekaligus menghapus isu OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan kelompok separatis. Mereka pun berbeda dengan polisi-polisi pada umunya. "Fisik mereka kita latih dan juga kemampuan untuk berbahasa Inggris," ujar pria yang menjadi Kapolda Papua dalam 2 tahun terakhir dan kini menjabat sebagai Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Pengembangan (Asrena).

Page 2 of 5
JAKARTA:
Rukan Inkopal Blok G No. 58
Jl. Raya Boulevard Barat, 
Kelapa Gading, Jakarta Utara
CP: +62-821-2121-0021

PAPUA:
Jalan Enggang No. 4
Kuala Kencana - Timika  -  Mimika   
CP: +62-812-4061-6288 (Jenny)

EUROPE:
Schoenbrunner Schloss Strasse
11220, Vienna, Austria   
CP: +43-680-2323-597 (Reza)

English French German Italian Portuguese Russian Spanish